“Tak ada yang lebih berharga di hidup ini, daripada sebuah pertemuan. Tanpanya, aku takkan mengenal kata ‘teman’ atau ‘sahabat’. Tanpanya, aku takkan mengenal kamu, seseorang yang selalu ada dalam panjatku.”
Asam dan manis. Rasa itulah yang paling tepat, ketika kamu bertanya seperti apa rasanya kehidupanku. Kamu takkan bisa mencecap keduanya begitu saja tanpa paduan bumbu yang cocok. Kamu takkan bisa meracik begitu saja jika kamu tak pernah tahu apa itu asam dan manis.
Hambar. Bumbu itulah yang bisa kuperlihatkan kepadamu, ketika terpintas pertanyaan bagaimana rupaku sehari-hari. Aku tak punya persediaan bumbu asin ataupun pedas, karena aku tak pernah tahu bumbu apa yang meracik keseharianku. Yang terpandang olehku hanya satu hal ; hambar.
Tapi, tahukah kamu? Jika bumbu hambar ini dipadukan dengan rasa asam dan manis, aku hanya butuh satu pelengkap saja untuk membuatnya menjadi sangat lezat. Membuatnya menjadi sangat berarti dan siapapun akan takzim ketika mencecapnya.
Ah, kamu pura-pura tidak tahu. Aku yakin, kamu sudah tahu jawabannya. Jika tidak, buat apa kamu bertanya?
Masih ingatkah kamu? Pertemuan pertama kita yang menggelikan itu? Ketika aku menumpahkan air mineral ke parka biru langitmu? Geli rasanya mengingat ketika aku begitu gelagapan penuh rasa bersalah dan meminta maaf padamu. Pasti akan sulit bagimu membedakan mana aku, dan mana maling dompet.
Pertemuan itu menuntunmu pada rasa penasaran. Entah bagaimana caranya, manusia sepertiku bisa menumpahkan air minum ke parka kesayanganmu itu. Kamu tersenyum, itu anehnya. Mungkin menertawakan caraku gelagapan. Atau mungkin, aku tampak seperti badut yang kehilangan kostumnya ketika itu? hanya kamu dan Tuhan yang tahu.
Pertemuan itu menuntunmu pada pesan teks pertama, yang hinggap di ponsel bututku. Sabtu Malam, aku ingat jelas hari itu. Pesanmu masih tersimpan rapi di kotak message ku. Hanya akan terhapus ketika pada waktunya aku tak lagi memiliki ponsel itu.
Siapa yang tahu tentang takdir? Aku saja ketika itu bahkan bertanya-tanya, angin apa hari ini yang membuatmu mengirimi pesan itu? Aku bahkan tak sedetikpun terbesit pikiran untuk mengingatmu ketika itu. Tapi itulah takdir. Manusia terkadang mendapat apa yang tak pernah dipanjatkannya.
Siapa pula yang tahu, pedagang mie ayam lah yang menyatukan kita dalam sebuah perbincangan hangat? Aku suka mie ayam. Kamu apalagi. Kamu bilang itu padaku, setelah pedagang mie ayam itu mengambil mangkuk kita berdua seusai makan. Kamu sangat senang hari itu. Mungkin karena pangsit garingnya, atau karena bertemu denganku lagi, atau mungkin kamu baru saja dikirimi uang oleh orangtuamu. Lagi, hanya kamu dan Tuhan yang tahu.
Kini, semuanya terlihat jelas olehku. Ketika kamu datang dan bertanya tentang rasa dan bumbu tersebut. Setan apa yang merasukimu sehingga kamu begitu penasaran hingga pada dua pertanyaan itu. Itu krusial, menurutku. Itu penting, katamu.
Yang aku tahu, pertanyaan itu sebanding dengan kamu menyatakan perasaanmu padaku.
Sudahlah, tak perlu kamu sembunyikan lagi. Toh, kita sudah sama-sama tahu jawabannya. Apa perlu, aku pinjam sebentar toa masjid sebelah rumahku dan kemudian kita berkabar-kabar dengan siapapun yang lalu lalang di hadapan kita? Sudahlah, kita sudah dewasa. Dan, aku tak perlu menunggu lebih lama lagi untuk menunggu jawaban itu terucap.
Aku akan mengatakannya padamu esok hari. Akan kuajak kamu masak ayam goreng asam manis di gubuk tua ku ini. Aku tahu kamu suka masak. Ah, ayam goreng asam manis mungkin terlihat mudah untukmu. Seperti menjentik jari tengah dengan jempol dan kemudian mengeluarkan suara.
Akan kuceritakan padamu, memasak ayam goreng asam manis sama halnya dengan melangkah sebentar dalam kehidupanku. Bahwa, bumbu hambarku bisa dimasak berbarengan dengan rasa asam dan manis dengan tambahan satu buah bumbu. Bumbu yang bisa melengkapi dan menjadikannya sangat lezat. Bumbu itu pernah menanyakan bagaimana rasanya masakan tanpa dirinya. Bagaimana tidak enaknya masakan itu tanpa dirinya.
Menurutku, bumbu itu.... KAMU.
cerpen fiksi terbaru