Jumat, 04 September 2015

Asam, Manis, dan Hambar

Tak ada yang lebih berharga di hidup ini, daripada sebuah pertemuan. Tanpanya, aku takkan mengenal kata ‘teman’ atau ‘sahabat’. Tanpanya, aku takkan mengenal kamu, seseorang yang selalu ada dalam panjatku.

Asam dan manis. Rasa itulah yang paling tepat, ketika kamu bertanya seperti apa rasanya kehidupanku. Kamu takkan bisa mencecap keduanya begitu saja tanpa paduan bumbu yang cocok. Kamu takkan bisa meracik begitu saja jika kamu tak pernah tahu apa itu asam dan manis.

Hambar. Bumbu itulah yang bisa kuperlihatkan kepadamu, ketika terpintas pertanyaan bagaimana rupaku sehari-hari. Aku tak punya persediaan bumbu asin ataupun pedas, karena aku tak pernah tahu bumbu apa yang meracik keseharianku. Yang terpandang olehku hanya satu hal ; hambar.

Tapi, tahukah kamu? Jika bumbu hambar ini dipadukan dengan rasa asam dan manis, aku hanya butuh satu pelengkap saja untuk membuatnya menjadi sangat lezat. Membuatnya menjadi sangat berarti dan siapapun akan takzim ketika mencecapnya.

Ah, kamu pura-pura tidak tahu. Aku yakin, kamu sudah tahu jawabannya. Jika tidak, buat apa kamu bertanya?

Masih ingatkah kamu? Pertemuan pertama kita yang menggelikan itu? Ketika aku menumpahkan air mineral ke parka biru langitmu? Geli rasanya mengingat ketika aku begitu gelagapan penuh rasa bersalah dan meminta maaf padamu. Pasti akan sulit bagimu membedakan mana aku, dan mana maling dompet.

Pertemuan itu menuntunmu pada rasa penasaran. Entah bagaimana caranya, manusia sepertiku bisa menumpahkan air minum ke parka kesayanganmu itu. Kamu tersenyum, itu anehnya. Mungkin menertawakan caraku gelagapan. Atau mungkin, aku tampak seperti badut yang kehilangan kostumnya ketika itu? hanya kamu dan Tuhan yang tahu.

Pertemuan itu menuntunmu pada pesan teks pertama, yang hinggap di ponsel bututku. Sabtu Malam, aku ingat jelas hari itu. Pesanmu masih tersimpan rapi di kotak message ku. Hanya akan terhapus ketika pada waktunya aku tak lagi memiliki ponsel itu.

Siapa yang tahu tentang takdir? Aku saja ketika itu bahkan bertanya-tanya, angin apa hari ini yang membuatmu mengirimi pesan itu? Aku bahkan tak sedetikpun terbesit pikiran untuk mengingatmu ketika itu. Tapi itulah takdir. Manusia terkadang mendapat apa yang tak pernah dipanjatkannya.

Siapa pula yang tahu, pedagang mie ayam lah yang menyatukan kita dalam sebuah perbincangan hangat? Aku suka mie ayam. Kamu apalagi. Kamu bilang itu padaku, setelah pedagang mie ayam itu mengambil mangkuk kita berdua seusai makan. Kamu sangat senang hari itu. Mungkin karena pangsit garingnya, atau karena bertemu denganku lagi, atau mungkin kamu baru saja dikirimi uang oleh orangtuamu. Lagi, hanya kamu dan Tuhan yang tahu.

Kini, semuanya terlihat jelas olehku. Ketika kamu datang dan bertanya tentang rasa dan bumbu tersebut. Setan apa yang merasukimu sehingga kamu begitu penasaran hingga pada dua pertanyaan itu. Itu krusial, menurutku. Itu penting, katamu.

            Yang aku tahu, pertanyaan itu sebanding dengan kamu menyatakan perasaanmu padaku.

Sudahlah, tak perlu kamu sembunyikan lagi. Toh, kita sudah sama-sama tahu jawabannya. Apa perlu, aku pinjam sebentar toa masjid sebelah rumahku dan kemudian kita berkabar-kabar dengan siapapun yang lalu lalang di hadapan kita? Sudahlah, kita sudah dewasa. Dan, aku tak perlu menunggu lebih lama lagi untuk menunggu jawaban itu terucap.

Aku akan mengatakannya padamu esok hari. Akan kuajak kamu masak ayam goreng asam manis di gubuk tua ku ini. Aku tahu kamu suka masak. Ah, ayam goreng asam manis mungkin terlihat mudah untukmu. Seperti menjentik jari tengah dengan jempol dan kemudian mengeluarkan suara.

Akan kuceritakan padamu, memasak ayam goreng asam manis sama halnya dengan melangkah sebentar dalam kehidupanku. Bahwa, bumbu hambarku bisa dimasak berbarengan dengan rasa asam dan manis dengan tambahan satu buah bumbu. Bumbu yang bisa melengkapi dan menjadikannya sangat lezat. Bumbu itu pernah menanyakan bagaimana rasanya masakan tanpa dirinya. Bagaimana tidak enaknya masakan itu tanpa dirinya.

Menurutku, bumbu itu.... KAMU.

cerpen fiksi terbaru

Minggu, 19 Juli 2015

Please, Stop

I hate you. Never give up to set your admiration on me. You make it not easy even not to turn around for a second, on the hope that you throw, while, I couldnt reach it. In the wishful that could have been passed me quickly, while I really forget that I walk so slow.

I really hate you. Hate your smile. Make me envy, you never even show me for once. While you convey it to everyone but me. How could you do that? I tried to hide from gazing at you. As a precaution, you didn’t find me starring at your smile.

I can’t hope more than quietly, you know. I can’t hope more but silence everytime. I can’t be more, than walking a pace.

I can’t be more, than hoping emptyness.

Either, I don’t know what I should hate you else. My hatred never born anger or revenge, but born new feeling. Something that I hate to admit. Against my unconfindence. And left me in the darkness when I didnt do that.

Yes, I think I’m into you.

We are connected on this silence, revealed in mellow night, and lead me talking to the moon. I missed you, don’t you know that? I just confess it on my pray. I hope the wind could fly it into your comfort place. Which always filling me inside.

Can you just quit?

I’m tired running on your admiration. Don’t make me say even more than this. Don’t let me crush your life that you are building with someone else. On the room that I mention it, the darkness.

Please, don’t set me on your admiration anymore. I’m done. At least on the set which blind my cruise into nowhere

Kamis, 11 Juni 2015

[#FLASHFICTION] Lelaki Penghantar Rindu

Pria tua itu menghampiriku. Aku bisa melihat jelas, diantara rinai hujan sore ini, pada mantel cokelat lusuhnya, ada beberapa bekas tambalan. Guratan wajah itu, selalu memantik rinduku keluar dari dalam lorong pikiran yang bernama kenangan. Bahkan, ketika ia sedang memegang payung itu, Entah, apa yang sudah dilaluinya selama sepuluh tahun ini.

“Kamu udah nunggu lama ya?” ujar Pria tua itu menutup pintu kedai kopi tempat kita sepakat untuk bertemu. Payung birunya dibiarkan terbuka diluar. Lagi, suara itu mengingatkanku pada tiap nyanyian pengantar tidurku. Nina bobo, aku masih ingat lagu yang dinyanyikan oleh suara serak-basah nya itu.

“Enggak kok. Aku baru sampe juga..” aku berbohong padanya. Tak mungkin, aku protes bahwa ini sudah 10 menit keterlambatannya. Tak mungkin, aku berani merobek perasaan ini pada sosok yang kini duduk di kursi dihadapanku.

Ya, sepuluh tahun lama nya aku terpisah darinya. Saat bagiku kemapanan adalah jalan terbaik untuk hidup lebih dari sekadar tidur diatas ranjang yang kadang berbunyi berderit itu. Saat aku memutuskan untuk meminang seorang dalam impianku, dan memulai pelayaran bersamanya.

“Kamu enggak marah kan?” tanya pria tua itu. wajahnya berubah sedih. “maafkan aku, tak bisa berbuat apa-apa untuk keluargamu. Tubuhku sudah terlalu ringkih untuk bisa mendapat lebih dari sekadar makan kita bertiga.”ada penyesalan getir di bibirnya.

Rindu pun pecah. Embun pagi perlahan menetes dari kedua mataku. Aku lah yang harusnya meminta maaf padamu, Ayah.

 

 

Selasa, 28 April 2015

[#CERPEN] Permulaanku Dengan Waktu

Bila kau bertemu dengan kegelapan, sampaikan pesanku padanya. Aku takkan pernah lari dari takdir. Aku akan tetap disini, menanti matahari tiba, atau kegelapan boleh menemuiku duluan.”

Mungkin, Waktu adalah teman paling setia bagi manusia. Tak ada hambatan untuk saling berbagi cerita kehidupan. Waktu tak akan lari kemana-mana, dia akan selalu ada untuk memberitahuku kapan hujan akan turun. Lantas, apa hubungan Waktu dan hujan?

Karena sejauh yang kutahu, hanya hujan-lah yang menjadi saksi perjalananku. Hujan dan Waktu adalah sahabat karib.

Permulaanku dengan Waktu tidak seperti sekarang ini. Tidak mudah untuk menapakinya. Aku harus jatuh-bangun, berdarah-darah, demi meraih uluran tangan sang Waktu yang tak sabar menungguku datang dari kejauhan. Ya, Waktu membenciku pada permulaan ini. Aku lebih berjalan lambat, tanpa peduli bahwa Waktu tak bisa meninggalkanku sendirian.

Aku tahu perasaan Waktu ketika itu, karena kini aku merasakan bagaimana sakitnya ditiadakan oleh orang lain.

Aku tak pernah lupa ketika Waktu menemukanku menangis di pojokan kamarku yang sempit. Di antara rinai hujan, menelisikkan suara rintiknya yang begitu kelu. Dia tahu aku tak bisa kehilangan sepasang malaikat yang senantiasa mengelus rambutku sebelum beranjak tidur. Atau, membuatkanku sarapan kesukaanku, telur dadar.

“ayo ikut denganku, akan kuajak jalan-jalan” Sang Waktu mencoba menghiburku.

“tidak” aku menolaknya. Kepalaku masih tersembunyi dibalik pelukanku pada kedua lutut.

“terakhir kali aku ikut denganmu, kau mengambil ayah dan ibu.”

“kau pembohong.”

Waktu terdiam. Aku melihat jarum jam dinding kamarku juga berhenti. Hanya aku dan dia yang sadar dalam dimensi ini. Aku bisa membaca Waktu ingin segera membantahku, tapi urung dilakukan. Aku pergi meninggalkannya, karena aku tak lagi percaya padanya.

***


Sepuluh tahun lamanya aku tak bersua dengan Waktu. Kita berdua sepertinya belum merindukan satu sama lain. Padahal, Aku masih seperti dulu, menyukai selasar taman yang dikelilingi oleh sepetak bunga tulip. Menggores tinta pada selembar kertas putih berukuran a empat. Menuliskan tiap perjalanan yang telah kulalui.

Kata ‘sepi’, ‘seorang diri’, ‘diam’ masih mendominasi berlembar-lembar kertas yang sudah menumpuk di atas meja rumahku. Entah kata apa lagi yang bisa kutuliskan untuk menambah variasi kata baru. Rasanya ada yang kosong di dalam sini, tanpa tahu obat penawar apa yang tepat untuk menambalnya. Ada yang berbeda antara dimensiku dengan lainnya. Aku kehilangan sang Waktu.

Ya, aku merindukannya.

Apakah Waktu benar-benar melupakanku?

Kerinduan ini menghantarkanku pada keterpurukan. Bagai anak ayam yang kehilangan induknya, aku tak bisa membaca dengan jelas peta kehidupanku. Aku lebih banyak berjalan di sepertiga malam, hanya untuk berharap, barangkali Waktu akan muncul di depan sana, dekat kedai kopi favoritku.

Harapan memang selalu ada, tapi aku lebih percaya pada takdir.”

***


Sang Waktu menemukanku pada suatu sore yang sendu, dengan senja berada di ambang langit. Siapapun bisa mendengar alunan rintik-rintik hujan itu. Entah kenapa, dia selalu menemukanku ketika hujan. Mungkin, karena ia bersahabat dengannya.

Tangan sang Waktu membelai pelan pipiku. Serasa ibuku membangunkanku di setiap pagi yang indah. Betapa terkejutnya aku ketika itu adalah sang Waktu, bukan ibu.

“bagaimana bisa...kau....” aku tak percaya dengan apa yang kulihat.

Sang Waktu tersenyum.

“kita kan teman.”

“aku tak pernah memanggilmu teman.” Ucapku ketus.

“kalau begitu panggil aku tamu.” Balas waktu. “aku ingin mendengar ceritamu.”

Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, ada yang memintaku bercerita. Ayah pernah berwasiat, “kamu pasti akan berjumpa dengan gelap dan terang. Tapi hanya waktu yang bisa menujukkanmu jalan mana yang tepat.”

Aku pikir tak ada salahnya berbagi cerita. Toh, pada akhirnya Waktu kembali hadir di sampingku.

***


Sang Waktu menemaniku hingga sepertiga malam. Senang rasanya kerinduan ini terobati. Walaupun lisan berbohong, Toh batin bisa berkata apa. Dia ternyata tak pernah meninggalkanku. Ia mengawasiku dibalik langit ketujuh, rupanya. Karena bukan dia yang menyerah akanku, tetapi aku yang pergi meninggalkannya. Dia percaya, bahwa suatu saat nanti akan tiba masanya ketika aku dan dia ditakdirkan bertemu kembali. Sampai saat itu tiba, dia senantiasa memperhatikanku. Sampai hari ini, saat dia membangunkanku dari tidur lelap.

Kita mulai saling membuka diri. Waktu menasihatiku banyak hal. Bahwa hidup itu bukan sesuatu hal yang boleh disia-siakan. Kehilangan adalah perusak keharmonisan perasaan dan emosi yang sudah Tuhan ciptakan secara sempurna untukku. Bahwa aku bisa menambal kekosongan di dalam dada ini oleh satu hal; rasa cinta.

Waktu mengajariku, bagaimana dulu Rasulullah SAW menorehkan kisah cintanya dengan Siti Khadijah, perempuan mulia yang mampu menggugah hati sang kekasih Allah. Ketika dahulu, Ali bin Abi Thalib harus kecewa ketika Fatimah, sang putri Rasulullah dipinang oleh Abu Bakar dan Umar Bin Khattab. Apadaya, Tuhan menakdirkan Ali mengarungi bahtera pelayaran kehidupan bersama Fatimah.

Waktu mengajariku, dia dan takdir berbeda. Mereka diciptakan dari hal yang berbeda. Waktu-lah yang menunjukkan jalan pada takdir, kemana ia kan berlabuh.

Waktu berpesan padaku, untuk mencoba melangkah dalam perspektif yang berbeda. Bahwa bumi ini diciptakan bukan untuk berjalan dalam satu langkah perjalanan. Membuka gembok hati adalah kunci utamanya.

***


Dalam suatu pagi yang sendu, seperti biasanya, aku terpaksa meneduhkan diri di kedai favoritku, lima puluh meter dari rumah. Pagi ini langit menangis tak keruan. Orang-orang berbondong beranjak dari santainya hanya sekedar mencegah bajunya basah. Diantara orang-orang itu, ada seorang gadis yang memancing perhatianku. Bukan karena dia cantik tiada tara, tapi karena aku melihat sang Waktu menuntun gadis itu ke kedai ini. Ke arah mejaku.

“maaf, apakah kursi ini kosong.”

Sang gadis bertanya diantara lamunanku. Sang Waktu langsung menginjak kakiku yang tersembunyi dibalik meja.

“aww”

“eh, iya, kosong kok..” jawabku tergugup.

Sang Waktu pergi meninggalkan gadis itu sambil tersenyum. Entah berapa banyak rencana yang sudah disiapkan olehnya dibalik langit ketujuh. Aku ditinggalkankan dalam perasaan campur aduk antara senang, terkejut, ataupun bingung.

Ya, dalam sekejap aku sudah dijebak oleh kekaguman. Walaupun dia hanya bertanya sekilas padaku, aku bisa melihat dari kedalaman wajahnya. Wajah yang menunjukkan kesederhanaan dan kebaikan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Gadis itu masih duduk di kursi depan sana, persis dihadapanku. Di meja yang sama. Karena langit belum mau berhenti menangis, gadis itupun memesan kopi yang sama denganku. Permulaan keterpautan, pradugaku.

Aku tahu maksudmu, Waktu. Kamu memang sahabatku.

***

Aku terbangun di sepertiga malam. Ada secarik kertas memo menempel didahiku. Jangan sering-sering jalan-jalan malam, sekali-kali berdoalah. Isi pesan itu memantik rasa penasaran. Tetiba, terdengar bunyi kaleng jatuh berdentang di luar kamar. Ada secarik kertas juga di dalamnya.

Munajatkan doamu agar kekagumanmu padanya berubah menjadi harapan yang mampu membawamu pada langit ketujuh. Karena aku menunggu ketika kamu menemuiku dengan seseorang yang ada dalam doamu.

***


Setiap hari aku menunggu sang gadis di meja dan kursi yang sama. Hujan, terik panas, bermusim-musim cuaca berganti, aku tetap disana. Dalam penantianku, kutitipkan sebuah surat pada sang waktu melalui sujudku di sepertiga malam. Surat tanpa kertas.

Wahai sang Waktu, entah berapa banyak rencana yang kau tuliskan untukku selama sepuluh tahun ini. Kau tahu, sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Sepuluh tahun kamu peduli padaku dibalik ketidaktahuanku, dan selama itu pula aku membencimu. Bukan kamu yang tak memaafkanku, sahabat. Aku yang pergi meninggalkanmu ketika dulu.

Bila kau bertemu dengan kegelapan, sampaikan pesanku padanya. Aku takkan lari meninggalkan takdir. Aku akan tetap disini, menanti matahari tiba, atau ia boleh menemuiku duluan. Aku harus segera berkisah padanya, bahwa kini aku memilihmu, Waktu. Kamu-lah satu-satunya bukti dari perjalananku. Perjalanan metamorfosa yang aku pikir, inilah kenangan terbaik. Terimakasih Waktu, semoga kita bisa benar-benar bertemu dilangit ketujuh.

Dihadapan gadis yang kini menarik kursi di depanku, aku membisikkan padanya panjatku, yang membuatnya tersenyum.

“aku dan kamu diciptakan berbeda untuk saling melengkapi. Tuhan sengaja menitipkan tulang rusukku padamu, agar kamu tidak tersesat dalam pelayaran menemukanku. Di muara pelabuhan yang orang menyebutnya, cinta.”

Gadis itu diam tanpa kata, dia hanya tersenyum bahagia. Sang Waktu hadir diantara kita berdua. Kita sudah dilangit ketujuh, rupanya.

SELESAI