Pria tua itu menghampiriku. Aku bisa melihat jelas, diantara rinai hujan sore ini, pada mantel cokelat lusuhnya, ada beberapa bekas tambalan. Guratan wajah itu, selalu memantik rinduku keluar dari dalam lorong pikiran yang bernama kenangan. Bahkan, ketika ia sedang memegang payung itu, Entah, apa yang sudah dilaluinya selama sepuluh tahun ini.
“Kamu udah nunggu lama ya?” ujar Pria tua itu menutup pintu kedai kopi tempat kita sepakat untuk bertemu. Payung birunya dibiarkan terbuka diluar. Lagi, suara itu mengingatkanku pada tiap nyanyian pengantar tidurku. Nina bobo, aku masih ingat lagu yang dinyanyikan oleh suara serak-basah nya itu.
“Enggak kok. Aku baru sampe juga..” aku berbohong padanya. Tak mungkin, aku protes bahwa ini sudah 10 menit keterlambatannya. Tak mungkin, aku berani merobek perasaan ini pada sosok yang kini duduk di kursi dihadapanku.
Ya, sepuluh tahun lama nya aku terpisah darinya. Saat bagiku kemapanan adalah jalan terbaik untuk hidup lebih dari sekadar tidur diatas ranjang yang kadang berbunyi berderit itu. Saat aku memutuskan untuk meminang seorang dalam impianku, dan memulai pelayaran bersamanya.
“Kamu enggak marah kan?” tanya pria tua itu. wajahnya berubah sedih. “maafkan aku, tak bisa berbuat apa-apa untuk keluargamu. Tubuhku sudah terlalu ringkih untuk bisa mendapat lebih dari sekadar makan kita bertiga.”ada penyesalan getir di bibirnya.
Rindu pun pecah. Embun pagi perlahan menetes dari kedua mataku. Aku lah yang harusnya meminta maaf padamu, Ayah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar