Sabtu, 27 Desember 2014

Lima Menit

Di dunia ini, banyak orang orang mencintai seseorang yang bahkan bicara dengannya langsung lebih dari 5 menit saja pun belum pernah.


- Tere Liye


Tulisan ini seketika setelah membaca #quote dari Tere Liye. Seketika setelah kemudian muncul kata-kata di dalam pikiran.  Entah kenapa, kata-kata penulis buku best seller itu benar adanya.


Ada orang yang mengagumi dalam diam


Tidak semua orang bisa mengungkapkan perasaan.  Entah dia laki-laki atau perempuan, tua atau muda, karena ada waktunya ketika seorang manusia merasa mulutnya terkunci rapat ketika bertemu seseorang lainnya. Dia tidak takut, hanya kurang berani saja.


Dalam kehidupan ini, kita akan belajar bahwa banyak orang yang hanya bisa melihat orang lainnya dari kejauhan saja. Orang yang dikaguminya. Tak ada segenggampun keberanian yang mereka miliki untuk sekadar megucapkan salam ataupun tersenyum. Ya, kata ibarat soal matematika, sangat sulit.


Pernah aku melihat, seorang lelaki pendiam yang setiap hari hanya melihat seseorang yang dikaguminya dari kejauhan. Pandangannya tak bisa lepas. Apa mau dikata, keberanian yang dia miliki hanyalah sebesar batu kecil yang kalau kugenggam tak berarti apa-apa. Setiap hari lelaki itu hanya berjalan dibelakang, menatap orang yang dikaguminya itu berjalan dengan seseorang lainnya. Dia bahkan tak berani menatapnya. Menatap kenyataaan yang ia bahkan tak sanggup untuk menerimanya.


Apa yang ia dapat? helaan nafas. Berjalan menatap ke tanah.


Kalau aku menjadi lelaki itu, mungkin aku akan berhenti. Membawa diriku ke lepas pantai dan berteriak. Melepaskan segala penderitaan yang kubawa. Aku sadar, lelaki itu hanya bisa membatasi perasaannya pada rasa kagum. Mungkin, dia yang membuat dirinya terbatasi. Namun, apapun itu, aku percaya, ada orang yang hanya bisa mengagumi dalam diam.


Setelah aku melihat hal seperti itu, aku coba berjalan ke taman, duduk diatas rumput hijau dan menunggu sore tiba. Menatap senja membuat diriku mengerti segalanya. Memang, perasaan adalah teka-teki yang tak terpecahkan. Kadang manusia dibuatnya lelah, hingga ia menyerah dan berhenti berharap. Akan tetapi, terkadang dibuatnya manusia tersenyum semringah, seakan ia memiliki sayap untuk terbang dan memberi salam pada awan.


Cinta memang penuh teka-teki, bahkan untuk semua orang. Karena ada orang yang hanya butuh 5 menit dari sepanjang hidupnya untuk memilikinya. Namun, ternyata ada juga orang yang hanya butuh 5 menit untuk menyadari bahwa dia hanya bisa mengagumi untuk sepanjang hidupnya.


- M.A.R

Minggu, 19 Oktober 2014

7 Oktober 2014- Kebersamaan

[caption id="attachment_48" align="alignnone" width="300"]Late surprise Late surprise[/caption]

Terkadang manusia harus mencapai titik 'kehilangan' untuk mengerti arti kebersamaan.

Perjalanan masih belum berakhir. 9 bulan bukanlah waktu yang sebentar, terutama untuk sebuah pekerjaan yang membutuhkan energi banyak untuk pikiran dan tenaga fisik. 9 bukanlah waktu yang sebentar juga untuk sebuah kebersamaan yang terikat oleh sebuah pekerjaan.

Ada kalanya, manusia ingin memilikinya waktu sendiri. Namun, bukan berarti selamanya dia seperti itu. Manusia harus sadar, mereka adalah makhluk sosial. Mereka butuh orang lain untuk mengisi kehidupannya. Rumah tangga, pekerjaan, sekolah, universitas, lingkungan tempat tinggal, dan lain-lain.

 

Kebersamaan adalah sebuah ikatan yang menghubungkan perasaan antar manusia untuk saling mengisi. Ada beberapa orang menyebutnya 'pertemanan' ada pula yang lebih kuat dan spesifik seperti halnya 'persahabatan'

Namun, apapun itu, kebersamaan adalah hal yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Melalui kebersamaan manusia belajar tentang peduli, tentang berbagi, dan tentang berbuat kebaikan. Dengan kebersamaanlah, manusia bisa mengerti bagaimana cara memahami sebuah perasaan. Karena, dengan karakter manusia yang berbeda, tentunya juga karakter perasaan yang berbeda. Dengan kebersamaanlah semua hal itu bisa dipahami.

Sangking kuatnya kebersamaan itu, terkadang orang yang terlepas 'ikatan' nya ini akan merasa kosong, hampa, ataupun sendiri. Manusia menyebutnya 'kehilangan'. Bukan perkara mudah merasakan 'kehilangan' karena kekosongan yang ditinggalkan itu berupa lubang besar. Ada beberapa orang yang bisa melewati fase 'kehilangan' ada yang tidak. Namun, yang terutama adalah bagaimana mencari kebersamaan dan mempertahankan ikatan tersebut.

Ketika kebersamaan sudah melahirkan sebuah keluarga, maka yakinlah, harta karun yang sangat berharga sudah anda dapatkan.

 

- M.A.R

Sabtu, 23 Agustus 2014

Travel Memory

Setiap perjalanan pasti memiliki kenangan. Terutama kenangan yang membuatmu tangguh dan kuat..



The rain tears down again. Today is like another day I’ve been waiting for. The day when the rain tears for calmly my life. The sound, the coldness, make me feel so calm, sit in the field. Feel comfort here, based on smooth-wood and straw in the up. I love this atmosphere, by a cup of hot tea. Gimme a chance to build my own peace. Gimme much time to jump back on my mind.


The Rain always remembering me for old-travel memory. The best travel I had in my life that I couldn’t forget in the rest of my life. In that evening, definitely the memory showed up and drowned me inside. “What’s going on?”, I think. After long time I’d been mind that my travel was wrong, but finally today I guess....


***


Last grade always be heavy time for student. The time that showed the way I was fighting for, graduation. Five years ago, in Jayakarta University, a one silent-man was preparing for this one. This awkward man was talkless people. He never liked to interact too much. He just wanted to be talkless man. He was me.


I wasn’t friendly man, at least because I didn’t talk much. I liked to be alone and always. Probably it was my characteristic : talkless, awkward, and unfriendly. But don’t think I didn’t have. I had. But, not too much. I thought, I was ordinary human and I was lower level of the life. I could do nothing. Mostly I was. So long I’d been mind of that, and it was truly killed me inside.


I was still remembered, when my classmate told me, “ You don’t think you can have best in your life. You deserve nothing.” And the last thing I knew, I just left that people. How I did like a damned looser. I was too weak. I didn’t deserve for what I wanted to be. They were true that I was.

Hantu Maljum

Jangan memanggil orang mati…

Jangan mencari orang mati..

Karena mereka semua sudah mati..

Atau kau akan bersama mereka…

Hari minggu, Akri dan dua orang sahabatnya Ryan dan Aqir terbangun dari tidurnya. Mereka bertiga tinggal dalam 1 rumah kontrakan. Mereka baru saja melalui malam yang panjang di sebuah arena permainan. War Game. Game online yang biasa mereka mainkan. Horror-action game. Mereka biasa melewatkan malam minggu bermain game.

“hei qir, jam berapa sekarang ?“ Akri bertanya dalam kantuk.

“Jam 9 pagi.“ jawab Aqir dalam kantuk juga. Keduanya masih dimabuk rasa kantuk.

“Apaaa.. ?!!“, Akri langsung tersentak bangun.

Hari itu Akri itu ada janji dengan seorang kenalannya untuk membahas soal hantu. Ya, selain game, ketiganya adalah pecandu hal-hal yang berbau ghaib atau mistis. Mereka menobatkan dirinya sendiri sebagai ghost-hunter. Tanpa upacara peresmian.

Senja Itu...

Senja itu..

Menghanyutkanku dalam lamunan

Membawaku pada alam bawah sadar

Menggiringku pada khayalan

 

Senja itu..

Membuatku terpana

Keindahannya mempesona

Langitnya .. merasukiku

 

Senja ..

Andaikan aku adalah dirimu...

Takkan kubiarkan diriku digantikan oleh sang malam..

Aku akan senantiasa menemani untuk kebahagiaan..

 

  • MAR     -

Metode Ala Ahmad

Wow ! kata itulah yang keluar dari mulut Ahmad ngeliat berita-berita yang ditampilkan surat kabar hari itu. Perampokan, korupsi, dan kemiskinan setia menghiasi lembar demi lembar. Doi kadang suka ketawa sendiri, kok seperti ini ya negara yang cinta damai ? kadang pula juga ga habis pikir kenapa hal seperti itu bisa ya terjadi ? Ahmad memang bukan mahasiswa hukum. Doi cuman mahasiswa ekonomi biasa. Tapi, bukan berarti ga boleh tahu tentang kondisi bangsa ini yang udah mulai carut marut.

“ Mas , itu teh nya diminum dulu... mumpung masih anget “ ucap seorang wanita separuh baya yang sudah terlihat sangat segar pagi itu.

“ Oh iya bu, makasih.. “ jawab Ahmad.

Ibu Ahmad adalah satu satunya orang yang menginspirasi doi. Beliau dulunya adalah aktivis perempuan. Beliau senantiasa memperjuangkan hak wanita yang kala itu derajatnya ga lebih baik dari gelandangan. Wanita dengan mudahnya dipermainkan. Wanita dengan mudahnya dijadikan umpan untuk memenangkan tender proyek. Ibu Ahmad adalah sosok yang ga ingin derajat wanita itu dipandang sebelah mata. Beliau sangat ngerti banget dengan Ahmad yang orangnya cukup kritis.

“ Bu.. Aku kok ngeliat berita setiap hari itu ituuu terus... Apa iya aparat selalu kecolongan ? Apalah guna mereka kalau ternyata yah... tindakan kriminal masih terus terjadi.. “

Ibu cuman tersenyum. “ Nak.. Negeri ini besar... Ibarat sebuah meja, ditengah tengah nya ada sebuah tumpukan gula. Secara otomatis semut akan datang terus menerus hingga gula itu habis. Namun, ketika kamu mencoba menghalau semut itu, akankah mereka berhenti ? mereka akan berhenti ketika kamu terus gigih untuk menghalau mereka “

Ahmad sedikit mendapat pencerahan, “ Jadi, jika kita memiliki seseorang yang punya tekad kuat dalam menegakkan kebenaran, mungkin kriminal benar-benar bisa hilang ya? “

Ibu lagi-lagi tersenyum.

***

Di kampus seperti biasa Ahmad nongkrong di kantin, wifi-an. Doi rupanya masih penasaran dengan pemikiran dadakan tadi pagi. Doi browsing banyak berita. Terutama tentang korupsi. Ahmad tertarik banget dengan masalah ini. Menurutnya, andaikan setiap uang yang dikorup itu aman-aman aja, mungkin negara ini ga miskin amat.

Doi miris banget ngeliat kondisi orang miskin semakin miskin dan orang kaya semakin kaya. Proyek-proyek besar seakan-akan menjadi santapan lezat bagi para koruptor. Mereka tertawa dalam kantor megah mereka, sementara penduduk miskin? Mereka menangis di rumah kardus mereka atau kolong jembatan. Bagaimana mereka bisa optimis menatap hari esok jika buat hari itu aja mereka mesti berjuang keras untuk bertahan hidup.

Doi ingin bahwa orang-orang seperti dia ini, pemuda yang peduli bangsa, untuk bersatu menyelamatkan negeri ini. Ahmad cinta Indonesia. Doi ga mau bangsa ini dihancurin oleh mereka yang hanya mencintai dirinya sendiri. Mereka yang terlalu egois untuk memikirkan rakyat jelata.

Siang itu tanpa sengaja doi ketemu Andi, sohib dari kecil. Andi mahasiswa ekonomi seperti Ahmad. Orang berdua ini suka banget diskusi tentang hal-hal kayak gini. Setiap pendapat Andi membawa pencerahan tersendiri bagi Ahmad, mungkin karena bapaknya Andi seorang pengamat ekonomi-politik. Bisa dibilang.. Andi udah nimba banyak banget ilmu dari bapaknya.

“ Ndi, ada satu hal yang bikin gue penasaran. Setiap kali gue baca berita kalau para koruptor ditangkap, tapi kok ga beres-beres juga ya masalah korupsi di Indonesia? “ tanya gue waktu mau mesen makan siang bareng doi.

“ Hahaha, bro.. lo harus tahu bahwa ekonomi negara kita ini berkembang sambil terjatuh.” Jawab andi sambil bawa nasi uduk dari mbok Imah, penjual nasi uduk di kantin.

Ahmad bingung sama pertanyaan yang satu ini.

“ Jadi gini... “ Andi ngeluarin secarik kertas dari tas nya. Dia tau ekspresi kebingungan gue. “ Lo tau gak, kalo Indonesia salah satu negara dengan perkembangan ekonomi yang baik? Dan lo tau juga gak kalo ekonomi adalah sumber kehancuran kita? “

“ Maksud lo? “

“ Nih... disaat ekonomi kita lagi mengalami perkembangan, korupsi terus merajajela. Ibarat hama yang susah untuk dihilangkan. Korupsi adalah perusak bangsa. Dan itulah yang terjadi saat ini.. akibatnya ekonomi berantakan.“

Ahmad setuju. Pake banget.

“ Nah cuman... yang gue ga pernah habis pikir adalah dimana kesempatan untuk pemuda seperti kita? Untuk memperbaiki kerusakan itu? Tiap tahun ekonom baru yang fresh selalu muncul, tapi apa yang bisa mereka kontribusikan? “

Ahmad kemudian terdiam sesaat. “ Eh.. banyak ! cuman belum terlihat , menurut gue. Soalnya kesempatan yang diberikan masih kurang. “

“ Itu dia.... Padahal jika Indonesia percaya pada pemudanya untuk membangun generasi baru dengan berlandas kejujuran, gue yakin ekonomi kita bisa berkembang tanpa harus terjatuh. Gue pikir korupsi ini merupakan penyakit generasi lama. Kita adalah generasi baru. Itu bedanya. “

***

Perbincangan itu memberanikan Ahmad untuk membuat sebuah artikel kritis di sebuah surat kabar harian. Doi cuman ingin menuangkan apa yang selama ini menjadi tanda tanya besar dalam pikirannya, “ APA YANG BISA GUE LAKUIN UNTUK EKONOMI BANGSA ? “

2 hari setelah Ahmad mengirimkan artikel itu, Doi dipanggil oleh pimpinan redaksinya, Mas Sholeh. “ Saya tertarik dengan artikel yang anda kirimkan. Namun, sebelum saya memastikan artikel itu bisa diterbitkan, saya meminta anda menjelaskan kepada tentang pendapat yang ada di dalamnya. “ , ucap Mas Sholeh di telepon.

Inilah kesempatan Ahmad buat mengungkapkan pemikirannya. Doi ngejelasin semua yang bisa dijelasin.

“ Saya tertarik dengan salah satu pernyataan di artikel anda yaitu, ‘ Pemuda perannya dikebiri. Khususnya bidang ekonomi. ‘ “

“ Ya, ada yang salah, Mas ? “

“ Tolong jelasin kepada saya maksud pernyataan itu. Bukankah saat ini banyak pimpinan perusahaan adalah mereka yang masih berusia muda? Pengusaha pun banyak yang muda-muda sekarang loh... “

“ Gini loh Mas, walaupun itu benar adanya ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran saya. Jika pemuda seperti itu yang dimaksud, apa peran pemuda seperti saya sekarang ini ? haruskah saya membuat suatu wirausaha atau bergabung dalam perusahaan terlebih dahulu? “

“ Justru, yang saya tekankan di artikel itu adalah bahwa sebagai pemuda, memajukan bangsa adalah tujuan utama. Yang pertama ingin saya perbaiki adalah moral. Korupsi muncul diakibatkan moral yang rusak. Jika pemuda sudah peduli pada bangsanya, sebuah solusi inshaa Allah akan muncul.. “ , lanjut gue.

Mas Sholeh terdiam.

Ahmad melanjutkan lagi, “ Mas, peran mahasiswa seperti saya ini penting untuk membangung ekonomi bangsa. Peran kita adalah supporting. Dengan pendapat-pendapat, karya tulis, ataupun tulisan-tulisan, sekaligus pembangunan moral, saya pikir bisa menjadi sebuah kontribusi besar, “

Ahmad kemudian menyelesaikan penjelasan yang udah mirip presentasi itu. Doi cuman ngeliat Mas Sholeh tersenyum mendengar penjelasan tersebut. Doi berharap artikel itu diterbitin. Artikel itu adalah senjata awal untuk mengubah pola pikir pemuda zaman sekarang, khususnya mereka yang berjuang di bidang ekonomi.

***

Setelah menunggu 2 hari, akhirnya artikel Ahmad berhasil diterbitkan. Pro-kontra pun berdatangan. Terutama yang merasa dianggap “ generasi lama “. Doi cuman tersenyum melihat itu semua. Apa yang dituangkan dalam artikel itu adalah sebuah kejujuran seorang mahasiswa yang peduli pada bangsanya. Seorang mahasiswa yang ingin bangsanya berkembang dengan baik.

Efek dari munculnya artikel itu sungguh besar. Di beberapa universitas muncul organisasi-organisasi atau sekelompok orang yang ingin melibatkan diri dalam pembangunan bangsa, terutama bidang ekonomi. Muncul orang-orang yang memiliki visi sama untuk membangun bangsa yang maju dan bersih. Mereka terinspirasi dengan metode “ pembangunan moral “ yang diungkapkan Ahmad dalam artikel pertamanya itu.

Ahmad sama sekali tidak menyangka bahwa apa yang ditulisnya ternyata menjadi inspirasi bagi orang banyak untuk membangun bangsa menjadi lebih baik. Keyakinan yang dipegang kuat Ahmad membuahkan hasil yang membuatnya menjadi sosok inspirator terbaik.

 

SELESAI

Penulis : M.A.R

Pelangi di Hatimu

Desiran angin malam ini sungguh begitu dingin, menusuk hingga kalbuku. Malam itu aku, seorang diri, tenggelam dalam pemandangan polos langit yang kelam. Hanya aku seorang diri. Malam itu aku teringat seseorang karena surat yang baru saja kutemukan dalam catatan pribadi lamaku. Surat itu dari seorang gadis, teman sekolahku ketika SMA dulu. Kutemukan surat itu terselip di dalamnya beberapa hari setelah aku menemukan buku catatanku yang sempat hilang itu.

Malam itu entah kenapa tubuhku bergerak sendiri mengacak barang-barang lamaku dan kemudian mataku tertuju pada sebuah buku catatan kusam. Buku itu ternyata catatan pribadiku sewaktu sekolah dulu. Di dalamnya aku menemukan sebuah amplop berisikan surat. Kubawa surat itu untuk menemaniku memandangi langit di atap rumah. Memandangi langit malam memang menjadi favoritku. Memberiku sedikit kesempatan untuk berpikir tenang.

Aku baru sadar bahwa semenjak buku itu dulu hilang dan beberapa hari kemudian ketemu, belum pernah kusentuh surat itu. Surat itu dalam sekejap membawaku terbang jauh ke dalam kenangan lamaku. Suasana dingin malam itu membuatku terbenam semakin dalam, hingga tanpa sadar aku sudah berada di dalam masa laluku. Di dalam kenangan itu.

Misteri Bilik 13

“ zzziinggg.... “ suara mesin perbaikan jalan berbunyi memekakkan telinga Iwa. Iwa sedang setengah perjalanan menuju kantor. Dia udah ga sabar untuk bertemu dua partner in work nya, Riki dan Alfan. Nih orang bertiga emang udah lengket banget kayak lem alteco ditempel di kepala bayi. Cuman ya itu, bunyi mesin perbaikan jalan membuat Iwa ga konsen bawa motornya karena ketika itu sedang macet pula. Setengah jam kemudian, sampailah Iwa di Kantor.

Oh iya, Iwa ini bekerja sebagai staff ahli pemograman di perusahaan berbasis cyber dan computer selling, PT. Cyber Tak Berjaya. Job yang sama juga dimiliki Alfan. Sementara Riki, pekerjaannya adalah nyolong eh ga ding, kerjaannya adalah staff ahli ekonomi. Perusahaan ini terletak di Ibukota yang mana memiliki gedung dengan satu lantai. Walaupun cuma satu, isinya pakar-pakar semua.

Moon Becomes You

Seringkali aku memimpikan,

Sebuah goresan kecil dalam hidupmu,

Untuk menandaimu,

Untuk menandai kehadiranku dalam hidupmu.

 

Seringkali pula aku merasakan,

Goresan itu menyakitimu,

Bak Malaikat terluka,

Yang terjatuh ke dalam bumi.

 

Aku dan kamu bukanlah Malaikat,

Aku tidak punya sayap,

Aku tidak punya naluri,

Aku tidak punya segalanya.

 

Aku hanya punya satu alasan,

Mengapa kusendiri disini,

Tak peduli betapa sakitnya itu,

Aku hanya berharap dikala malam.....

Bulan itu kamu.

 

-M.A.R-

 

Untitled

Ditengah kesendirian ini,
Kudapati kegelapan menyelimuti.
Menjauhkanku dari berbagai kehidupan,
Yang kini tampak samar bagiku.


Dalam kehancuranku,kucari kedamaian.
Dalam kegelapanku,kuingin penjelasan.
Dalam penderitaanku,aku hanya bisa menyesali.
Tertunduk lesu melihat kenyataanku.


Kuberjalan dalam kegelapan,
Mencari sebuah kepastian.
Kuterbangun dalam kematian,
Untuk mendapatkan tempatku.


Ketika kematian sudah datang menantiku,
Ketika kematian sudah datang menjemputku,
Akhirnya kusadari,kudapatkan jawaban itu.
Kuhabiskan hidupku dalam kesendirian ini,
itulah kebahagiaan yg kudapatkan


 

The Shinobi

Shinobi.
Itulah sebutan untuk para ninja. Inilah dunia kami, dunia shinobi. Dunia yang penuh kebencian. Mereka yang mencari kedamaian di dunia ini memiliki makna dan cara tersendiri. Apa yang dicari oleh mereka, isn't on my mind. Mereka hanya menanam benih kebencian. Kebencian itu tumbuh dari perang yang terus berkobar.. Menebarkan kebencian dan memperlihatkan apa itu penderitaan.

Perang memang tidak akan pernah berakhir. Sekalipun perang selesai, selama sisa sisa kebencian masih ada di dunia ini, perang takkan berakhir. Kebencianlah yang menimbulkan perang. Dan kebencian pula yang ditebar dalam perang itu. Ini takkan ada habisnya.

Kemudian, ditengah perang itu hiduplah seorang anak yang masih sangat belia, terlalu belia untuk melihat pertumpahan darah. Terlalu belia untuk melihat apa itu kebencian dunia shinobi. Neraka kehidupan. Anak itu tidak takut menyusuri jejak-jejak yang penuh bercak darah, menyusuri gelapnya hidup. Dan anak itu telah mengerti neraka kehidupan tersebut.

Akulah anak itu.

Korban perang, sebatang kara... Ya, itulah aku. Di usia belia ini terlalu muda untukku melihat ibu dan kakakku mati. Bahkan ayahku menghilang entah kemana ketika perang berakhir. Kupikir ia sudah mati.

Jumat, 22 Agustus 2014

Tulisan Dalam Secarik Kertas

Sedikit tulisan ketika tangan ini sempat mati suri menulis untuk beberapa lama...

 

Aku rindu menulis. Mungkin, aku bukanlah penulis yang baik. Aku bisa disebut apa itu namanya penulis amatir. Memang aku bukanlah seseorang yangmampu merangkai kata-kata menjadi untaian indah yang mampu menggugah hati seseorang. Aku hanya penulis biasa. Bagiku, menulis tidak lebih sekedar meng-ilustrasikan kembali kehidupanku. Kebahagiaanku, kesedihanku, dan penderitaanku tak ubahnya adalah sebuah peristiwa yang menurutku itu adalah bagian dari sejarahku, sejarah hidupku.

Menulis tidak ubahnya hanya sebuah hobi, terutama merupakan hobi dari seorang manusia biasa. Akan tetapi, sudah lama tanganku mati. Telah banyak sejarah hidupku terlewatkan dan tanganku tak mau bergerak untuk menuliskannya. Sudah lama kutinggalkan buku-buku tulisanku dilemari, berdebu tak tersentuh. Mood-ku untuk menulis pun sudah lama hilang, tanpa jejak. Jika boleh aku berkisah, perjalanan awalku dalam menulis adalah ketika ‘ kegelapan ‘ menghampiriku. Ketika segalanya tampak gelap dalam hidupku, ketika segalanya tampak hilang dari hadapanku, aku tidak bisa menahannya. Saat itu lah pena dan kertas menjadi temanku. Aku bukan tipe orang yang hobi menulis diary, tetapi aku hanya ingin berbagi pikiranku dengan sang pena juga sang kertas.

Waktu terus berjalan, berbagai hal kuhadapi. Semangatku untuk menulis perlahan-lahan terkikis, layaknya batu yang karang yang dikikis oleh terjangan ombak. Aku perlahan-lahan mulai menemukan cahaya, menghapus ‘ kegelapan ‘ itu. Aku tidak lagi punya kisah yang membuatku harus menulis. Tanganku benar-benar kubelenggu. Aku tahu, tanganku tidak menginginkannya. Namun, tak ada kekuatan dari tanganku ini untuk memberontak.

Hal ini terus berlalu, hingga sampailah aku pada hari dimana kulepaskan belenggu tanganku, hari ini. Ya, hari ini, tanpa sadar ketika aku melihat tulisan kamu, belenggu itu lepas. Kata-kata dalam tulisanmu membuka pikiran juga mataku bahwa masih banyak hal yang dapat kutuliskan. Masih banyak lembaran-lembaran kehidupan di dunia ini yang bisa kutuliskan, mungkin juga untukmu. Tulisanmu telah menyadarkanku, kuharap ini mampu bertahan selamanya. Kini, tanganku sudah bisa tersenyum. Terima kasih, temanku. Aku benar-benar rindu menulis.