Sabtu, 23 Agustus 2014

The Shinobi

Shinobi.
Itulah sebutan untuk para ninja. Inilah dunia kami, dunia shinobi. Dunia yang penuh kebencian. Mereka yang mencari kedamaian di dunia ini memiliki makna dan cara tersendiri. Apa yang dicari oleh mereka, isn't on my mind. Mereka hanya menanam benih kebencian. Kebencian itu tumbuh dari perang yang terus berkobar.. Menebarkan kebencian dan memperlihatkan apa itu penderitaan.

Perang memang tidak akan pernah berakhir. Sekalipun perang selesai, selama sisa sisa kebencian masih ada di dunia ini, perang takkan berakhir. Kebencianlah yang menimbulkan perang. Dan kebencian pula yang ditebar dalam perang itu. Ini takkan ada habisnya.

Kemudian, ditengah perang itu hiduplah seorang anak yang masih sangat belia, terlalu belia untuk melihat pertumpahan darah. Terlalu belia untuk melihat apa itu kebencian dunia shinobi. Neraka kehidupan. Anak itu tidak takut menyusuri jejak-jejak yang penuh bercak darah, menyusuri gelapnya hidup. Dan anak itu telah mengerti neraka kehidupan tersebut.

Akulah anak itu.

Korban perang, sebatang kara... Ya, itulah aku. Di usia belia ini terlalu muda untukku melihat ibu dan kakakku mati. Bahkan ayahku menghilang entah kemana ketika perang berakhir. Kupikir ia sudah mati.



Tidak ada dewa. Jikalah ada, dia takkan menebar kebencian di dunia shinobi ini.

Is there a God?

Kebencian. Awal dari segala perang. Aku muak mendengar kata ini. Memang hanya sebuah kata, tetapi akibatnya..... Sungguh binasa. Sebenarnya keegoisanlah yang menimbulkan kebenciaan itu. Digabungkan dengan penderitaan, jadilah neraka kehidupan. Neraka kehidupan itu ada tiga, yaitu kebencian, penderitaan, dan kesepian. Semua bersatu dalam kegelapan. Bisa dirasakan betapa menderita dan sakitnya melihat orang yang kita cintai mati. Betapa benci dan sepinya diasingkan dari kehidupan ini. Tapi, hal itulah yang membuatku berkembang. Membuatku mengerti arti kehidupan yang sebenarnya.

Shinobi adalah mereka yang dianugerahi cakra. Mereka yang dianugerahi kekuatan untuk saling melindungi satu sama lain. Melindungi dunia ini dalam kestabilannya. Itulah ninja. Tapi... Hal itu berubah menjadi gelap. Tak ada lagi rasa saling percaya. Shinobi-shinobi membentuk banyak klan, dan saling berseteru. Jalan pikiran mereka berubah. Mereka bertempur untuk mendapatkan kejayaan. Pengakuan bahwa merekalah yang terkuat.

Dan lahirlah perang. Disitulah kebencian ditebar. Merenggut nyawa ibu dan kakakku, mungkin juga ayahku. Mereka yang berperang tidak berpikir apa yang akan terjadi. Hanya ada rasa egois di hati mereka. Dan sisa sisa kebencian perang mulai masuk ke hati siapapun manusia itu. Tanpa kusadari,ternyata itu tertanam dalam hatiku.

Aku benci mereka yang mengobarkan perang. Klan Hiruzen, akan kuingat selalu nama klan itu. Klan yang mengobarkan perang ini. Klan yang telah merenggut nyawa orangtuaku! Dengan siapapun klan itu bersekutu, semuanya akan hancur ditanganku ! Sepertinya dendam mulai membutakanku. I don't care.

Biarkan saja mereka menikmati kemenangannya. Tapi aku tak mau menjadi budak mereka. Aku tahu klanku, Hyuuchiha, selalu berseteru dengan klan Hiruzen,tp aku tak mau menjadi budak mereka! Lihat saja perang akan kukobarkan kembali. Aku tahu. Ninja bukanlah sekedar obsesiku, tapi juga tujuan hidupku. Sebagai anggota klan,sudah seharusnya menjadi shinobi terkuat.

Ya! Aku telah bertekad akan menjadi yang terkuat dan kelak akan kuhancurkan klan Hiruzen. Mungkin orang berpikir anak kecil sepertiku tahu apa tentang kebencian dunia shinobi? Tahu apa tentang perang? Mereka semua meragukanku. Lantas aku kembali bertanya, " pernahkah satu diantara kalian merasakan neraka kehidupan itu? jika ada saja yang pernah merasakan segala omong kosong kalian itu barulah aku akan diam.”

Jangan kalian pikir aku gila. Dunia inilah yang gila. Akan kubuat para pembenci takdir merasakan penderitaanku.

Aku memutuskan pergi mengembara bersama sisa sisa anggota klan untuk berlatih di sebuah kota nun jauh. Kota Keiji, sebuah kota yang sudah lama ditinggalkan penduduknya. Konon, sisa-sisa pemberontak bermukim di kota itu.

Disanalah aku ditempa, dilatih menjadi shinobi yang handal. Apapun yang akan kujalani, Aku siap melaluinya. Jika memang ada kutukan itu, biarkan aku memutuskan kutukan tersebut dan menguatkan ikatan kebencian. Ikatan? Haha.... Yah,hal yang penting dari hidupku. Hal yg mampu membuatku bertahan hidup hingga kini. Satu hal yang sangat kujaga. Aku tidak ingin memutuskan ikatanku.

Apakah kedamaian itu ada? Kalau begitu kenapa dunia ini begitu gelap?

Aku sudah remaja, aku butuh penjelasan dari semua omong kosong-penderitaan ini. Namun, tidak ada satupun yang mau berkata padaku. Aku terus dianggap anak kecil. Aku hanya ingin tahu penjelasan nya. Itu saja.

Now this, I just focus to my training. Doin' hard and be stronger.

***

3 tahun kemudian latihanku selesai. Aku sudah mendapatkan kekuatan yang kuimpikan. Aku sudah berkembang menjadi shinobi yang sangat handal. Hasil latihan kupun tidak sia-sia. Karena kemampuanku itu aku berhasil menjadi pemimpin klan. “ Sudah saatnya kau memimpin kita semua, seperti halnya ayahmu dulu. Kau mewarisi tekadnya.. “ ucap tetua klan. Akhirnya, mimpiku untuk membangkitkan klan ini terwujudkan. Tinggal tujuan hidupku yang belum diwujudkan.

Perang, perang, dan perang. Sisa sisa kebencian itu masih tersimpan di hati ini. Sangat dalam. Dan perang itu akan kukobarkan kembali. Mereka akan musnah ditanganku... Lihat saja! Tanganku sudah sangat panas. Strategipun disusun. Perang akan berkobar. Jangan pernah takut dengan perang. Sudah takdir shinobi untuk saling bertarung.

Don't run from the destiny. Mungkin sudah takdirku pula menjadi pemimpin klan.

Hatiku sudah mantap, tak ada keraguan lagi. Perang akan berkobar kembali.

Don't be afraid. We are strong. So,what we'll get? Just hatred. And that's war. So full of hate feeling.

The war is beginning. Kami bergerak sesuai strategi yang telah disusun. Kami perang untuk menang. Tapi bagiku, perang untuk kehancuran. Malam itu menjadi malam pertumpahan darah. Kedua klan bertarung dengan seimbang. Tapi ini baru permulaan. Pertarungan yang sangat dahsyat pun terjadi,dan korban-korban mulai berjatuhan.

2 hari kemudian, Tepat sebelum fajar tiba, kedua klan menarik mundur pasukan nya. Ada apa ini? Akupun terpaksa mundur dari medan pertarungan karena pasukanku juga telah mundur.

Aku langsung pergi ke tenda menemui petinggi klan. " Tetua, ada apa ini? Kenapa pasukan ditarik mundur?" tanyaku pada petinggi klan.

" Kita akan mengadakan gencatan senjata", kata tetua.

" Apa !? Hei tetua, apa artinya ini? Apa artinya pengorbanan ibu dan kakakku kalau begitu? Apa artinya kita berjuang sampai sini? Apakah ini tidak ada artinya untukmu !?"

"Aku mengerti.." tetua menepuk pundakku. "Aku mengambil keputusan ini juga memikirkan anggota klan kita. Aku tidak ingin ada yang menjadi korban lagi. Kau sebagai pemimpin klan pasti mengerti itu."

"Apa maksudmu?" , emosiku mulai terbakar.

" Petinggi klan Hiruzen menemui kita. Dia menawarkan kita aliansi dan bersatu.", tutur si tetua.

"Apa maksudnya ini? Klan Hiruzen adalah musuh, tidakkah engkau mengerti?", kataku.

"Aku dan juga anggota lain pada awalnya menolak. Akan Tetapi setelah mendengar penjelasan mereka, aku memutuskan untuk menerimanya. Kita sudah lelah terus berperang, coba singkirkan rasa egois-mu itu. Sudahlah.. Inilah takdir kita", kata tetua bijaksana.

Ego? Jangan bercanda. Apa artinya nyawa-nyawa berharga yang telah berkorban demi nama klan? Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran tetua. Mungkinkah klan Hiruzen merencanakan sesuatu?

Keesokannya harinya, ketika fajar tiba, petinggi kedua klan menandatangani perjanjian aliansi dan bersatu dibawah nama desa Kyuuzen. Jujur, aku sangat benci harus mengakuinya. Usahaku selama ini menjadi sia-sia saja. Tapi akhirnya ini semua terpaksa kulakukan demi anggota klanku.

Lantas, lihat siapa pemimpin desa yang terpilih? Pemimpin klan Hiruzen. Sampai saat inipun aku belum pernah melihat wajah aslinya. Ia menutupi wajahnya dengan topeng misterius. Mengapa klanku mau saja dibodohi klan Hiruzen? Aku tak habis pikir. Aku pergi dari desa, dikhianati oleh teman temanku dan juga klan. Tidak ada yang mau ikut bersamaku untuk membantuku. Aku pergi dengan membawa kebencianku. Aku merencanakan untuk balas dendam ke desa.

Aku sudah berbicara dengan tetua klan. Dengan tegas dia menentangku, “ Kau jangan ego! Hidup dalam kedamaian juga adalah sesuatu hal yang kita impikan dari dulu! “. Aku tidak habis pikir dengan pemikiran tetua, “ Apa salahnya kita hidup dalam perang jika kemudian penderitaan kita bisa hilang? Penderitaan kita tidak akan pernah bisa hilang selama klan Hiruzen masih ada!”. Aku masih keras dengan pendapatku. Aku hanya ingin keadilan. Itu saja.

Aku tetap memutuskan pergi. Pemimpin desa tahu niatku dan dia pergi keluar desa mencariku. Mengetahui tempat ku berada,ia langsung mengejarku.

" Siapa kau ? Mau apa kau mengejarku? "

Dia diam saja. Lantas, ia membuka topengnya .. Kulihat wajahnya. Rasanya kukenal wajah itu. wajah itu membawaku pada banyak kenangan di masa kecilku. Dia Itu .... ayah.. !! Tapi, ia masih hidup. Tidak.. tidak... Ayah sudah mati.

“ Siapa kau sebenarnya , hei ?! “

“ Kau sudah besar anakku.... “

Tidak mungkin. Tidak... suara itu tidak mungkin kulupakan. Suara itu... suara ayah. Tapi.. dia adalah pemimpin klan Hiruzen. Dan bahkan ia juga mengkhianati klan. Bagaimana bisa?

"Ayah, apa maksud semua ini? Kenapa kau masih hidup? Tetua memberitahuku kau sudah mati ! "

“ Anakku.. banyak hal yang sudah kulewati sepanjang hidupku. Aku hanya ingin mencari kebenaran.... “

Aku tidak percaya dengan alasannya.

“ Mengapa kau mengkhianati klan ? “

" Kau masih terlalu muda untuk mengerti. Tidak mengetahui apa yang tidak perlu kau ketahui adalah kebaikanmu,anakku. Alasanku adalah rahasiaku." , jawab ayah.

“ Ayah apakah itu benar benar kau ? “ . Aku masih saja tidak percaya. “ sungguh aku tidak percaya ini ... Kau bukan ayahku ! Ayahku bukan musuh ! ayahku sudah mati! " teriakku penuh emosi

“ Iya ini aku, wahai anakku. Senang melihatmu tumbuh besar dengan baik.. tapi, kita ternyata ada di kubu yang berbeda.. “ jawab ayah kembali

“ Tidak... tidak.... bagaimana bisa kau masih hidup.. bahkan kau sudah terbunuh di perang dulu ! lalu apa maumu mengejarku? Apa yang akan kulakukan bukan urusanmu." Emosiku sedikit mereda.

" Jangan bercanda, aku tahu niatmu. Sebagai sesama shinobi, aku tahu isi hatimu.. Aku harus menghentikanmu saat ini juga." Jawab ayahku sembari mengeluarkan kunai nya

Dan pertarungan pun tak bisa dihindari. Lembah akhir. Disinilah pertarungan itu terjadi. Kami berdua seimbang. Bertarung hingga saat saat terakhir. Dan.. Ninjutsu-ku lebih unggul dari ayah, satu seranganku telak mengenai tubuhnya. Tubuhnya berlumuran darah. Walaupun begitu, ayah mengetahui jurus-jurus mematikan lebih dari yang aku ketahui. Pertarungan dahsyat itu pun hampir berakhir ketika kami berdua sudah sangat sekarat,tenaga yang ada hanyalah tersisa untuk serangan terakhir.

“ Ayo kita akhiri ini ayaah !!!!! “ emosi membakar jiwaku. Namun, tanpa disadari aku juga menetaskan air mata.

Ninjutsu-ku andalanku untuk kedua kalinya telak mengenai tubuh dia. Tubuhnya terbaring tak bergerak. Sekujur tubuhnya penih luka parah. Dia sudah mati. Ayah sudah mati. “ Maafkan aku ayah. Aku membunuhmu bukan karena kau pengkhianat klan. Waktu diriku masih kecil, kau selalu bercerita tentang kesetiaanmu pada klan hyuuchiha. Dan kini.....kau berkhianat. Aku tidak tahu alasanmu, tapi sejujurnya aku tak mau membunuhmu, terlebih lagi ketika mengetahui kau menjadi pemimpin klan hiruzen. Tapi tujuan hidupku adalah menghancurkan klan hiruzen, sekalipun kau-lah pemimpinnya.”

Aku telah dibutakan oleh dendam. Tujuanku selama ini adalah pembalasan dendam. Bahkan aku harus menyesali segalanya ketika ayahku sendiri adalah korban dari kemarahan dendamku.

Setelah pertarungan itu kuputuskan untuk keluar desa untuk selamanya. Aku tak mau kembali ke sana. Aku tidak mau kembali lagi. Aku sudah dikhianati oleh klanku sendiri. Setelah ayah, teman-teman, kini semuanya berkhianat kepadaku. Semua yang menyetujui aliansi dengan hiruzen kuanggap sebagai pengkhianat. Tak peduli sekalipun aku sendiri. Ikatan yang selama ini kujaga akhirnya kuputuskan. Tak ada lagi ikatan, kini aku bebas menentukan kehidupanku sebagai shinobi. Matahari takkan bersinar di desa itu. Kabut akan mengelilingimu selamanya. Itulah doaku. Memang benar, sisa sisa kebencian perang itu memang abadi. Selamat tinggal.

-------------------------------------------------------  THE END  ------------------------------------------------------------------------------

this is my first story on the blog. Mohon maaf jka masih ada kata yang kurang, atau terbalik, dsb. , karena masih belajar dalam hal menulis cerita :)

I hope you all like read this story

thanks to my friend, dewi, for the story's idea.

- M.A.R

Tidak ada komentar:

Posting Komentar