Sedikit tulisan ketika tangan ini sempat mati suri menulis untuk beberapa lama...
Aku rindu menulis. Mungkin, aku bukanlah penulis yang baik. Aku bisa disebut apa itu namanya penulis amatir. Memang aku bukanlah seseorang yangmampu merangkai kata-kata menjadi untaian indah yang mampu menggugah hati seseorang. Aku hanya penulis biasa. Bagiku, menulis tidak lebih sekedar meng-ilustrasikan kembali kehidupanku. Kebahagiaanku, kesedihanku, dan penderitaanku tak ubahnya adalah sebuah peristiwa yang menurutku itu adalah bagian dari sejarahku, sejarah hidupku.
Menulis tidak ubahnya hanya sebuah hobi, terutama merupakan hobi dari seorang manusia biasa. Akan tetapi, sudah lama tanganku mati. Telah banyak sejarah hidupku terlewatkan dan tanganku tak mau bergerak untuk menuliskannya. Sudah lama kutinggalkan buku-buku tulisanku dilemari, berdebu tak tersentuh. Mood-ku untuk menulis pun sudah lama hilang, tanpa jejak. Jika boleh aku berkisah, perjalanan awalku dalam menulis adalah ketika ‘ kegelapan ‘ menghampiriku. Ketika segalanya tampak gelap dalam hidupku, ketika segalanya tampak hilang dari hadapanku, aku tidak bisa menahannya. Saat itu lah pena dan kertas menjadi temanku. Aku bukan tipe orang yang hobi menulis diary, tetapi aku hanya ingin berbagi pikiranku dengan sang pena juga sang kertas.
Waktu terus berjalan, berbagai hal kuhadapi. Semangatku untuk menulis perlahan-lahan terkikis, layaknya batu yang karang yang dikikis oleh terjangan ombak. Aku perlahan-lahan mulai menemukan cahaya, menghapus ‘ kegelapan ‘ itu. Aku tidak lagi punya kisah yang membuatku harus menulis. Tanganku benar-benar kubelenggu. Aku tahu, tanganku tidak menginginkannya. Namun, tak ada kekuatan dari tanganku ini untuk memberontak.
Hal ini terus berlalu, hingga sampailah aku pada hari dimana kulepaskan belenggu tanganku, hari ini. Ya, hari ini, tanpa sadar ketika aku melihat tulisan kamu, belenggu itu lepas. Kata-kata dalam tulisanmu membuka pikiran juga mataku bahwa masih banyak hal yang dapat kutuliskan. Masih banyak lembaran-lembaran kehidupan di dunia ini yang bisa kutuliskan, mungkin juga untukmu. Tulisanmu telah menyadarkanku, kuharap ini mampu bertahan selamanya. Kini, tanganku sudah bisa tersenyum. Terima kasih, temanku. Aku benar-benar rindu menulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar