Wow ! kata itulah yang keluar dari mulut Ahmad ngeliat berita-berita yang ditampilkan surat kabar hari itu. Perampokan, korupsi, dan kemiskinan setia menghiasi lembar demi lembar. Doi kadang suka ketawa sendiri, kok seperti ini ya negara yang cinta damai ? kadang pula juga ga habis pikir kenapa hal seperti itu bisa ya terjadi ? Ahmad memang bukan mahasiswa hukum. Doi cuman mahasiswa ekonomi biasa. Tapi, bukan berarti ga boleh tahu tentang kondisi bangsa ini yang udah mulai carut marut.
“ Mas , itu teh nya diminum dulu... mumpung masih anget “ ucap seorang wanita separuh baya yang sudah terlihat sangat segar pagi itu.
“ Oh iya bu, makasih.. “ jawab Ahmad.
Ibu Ahmad adalah satu satunya orang yang menginspirasi doi. Beliau dulunya adalah aktivis perempuan. Beliau senantiasa memperjuangkan hak wanita yang kala itu derajatnya ga lebih baik dari gelandangan. Wanita dengan mudahnya dipermainkan. Wanita dengan mudahnya dijadikan umpan untuk memenangkan tender proyek. Ibu Ahmad adalah sosok yang ga ingin derajat wanita itu dipandang sebelah mata. Beliau sangat ngerti banget dengan Ahmad yang orangnya cukup kritis.
“ Bu.. Aku kok ngeliat berita setiap hari itu ituuu terus... Apa iya aparat selalu kecolongan ? Apalah guna mereka kalau ternyata yah... tindakan kriminal masih terus terjadi.. “
Ibu cuman tersenyum. “ Nak.. Negeri ini besar... Ibarat sebuah meja, ditengah tengah nya ada sebuah tumpukan gula. Secara otomatis semut akan datang terus menerus hingga gula itu habis. Namun, ketika kamu mencoba menghalau semut itu, akankah mereka berhenti ? mereka akan berhenti ketika kamu terus gigih untuk menghalau mereka “
Ahmad sedikit mendapat pencerahan, “ Jadi, jika kita memiliki seseorang yang punya tekad kuat dalam menegakkan kebenaran, mungkin kriminal benar-benar bisa hilang ya? “
Ibu lagi-lagi tersenyum.
***
Di kampus seperti biasa Ahmad nongkrong di kantin, wifi-an. Doi rupanya masih penasaran dengan pemikiran dadakan tadi pagi. Doi browsing banyak berita. Terutama tentang korupsi. Ahmad tertarik banget dengan masalah ini. Menurutnya, andaikan setiap uang yang dikorup itu aman-aman aja, mungkin negara ini ga miskin amat.
Doi miris banget ngeliat kondisi orang miskin semakin miskin dan orang kaya semakin kaya. Proyek-proyek besar seakan-akan menjadi santapan lezat bagi para koruptor. Mereka tertawa dalam kantor megah mereka, sementara penduduk miskin? Mereka menangis di rumah kardus mereka atau kolong jembatan. Bagaimana mereka bisa optimis menatap hari esok jika buat hari itu aja mereka mesti berjuang keras untuk bertahan hidup.
Doi ingin bahwa orang-orang seperti dia ini, pemuda yang peduli bangsa, untuk bersatu menyelamatkan negeri ini. Ahmad cinta Indonesia. Doi ga mau bangsa ini dihancurin oleh mereka yang hanya mencintai dirinya sendiri. Mereka yang terlalu egois untuk memikirkan rakyat jelata.
Siang itu tanpa sengaja doi ketemu Andi, sohib dari kecil. Andi mahasiswa ekonomi seperti Ahmad. Orang berdua ini suka banget diskusi tentang hal-hal kayak gini. Setiap pendapat Andi membawa pencerahan tersendiri bagi Ahmad, mungkin karena bapaknya Andi seorang pengamat ekonomi-politik. Bisa dibilang.. Andi udah nimba banyak banget ilmu dari bapaknya.
“ Ndi, ada satu hal yang bikin gue penasaran. Setiap kali gue baca berita kalau para koruptor ditangkap, tapi kok ga beres-beres juga ya masalah korupsi di Indonesia? “ tanya gue waktu mau mesen makan siang bareng doi.
“ Hahaha, bro.. lo harus tahu bahwa ekonomi negara kita ini berkembang sambil terjatuh.” Jawab andi sambil bawa nasi uduk dari mbok Imah, penjual nasi uduk di kantin.
Ahmad bingung sama pertanyaan yang satu ini.
“ Jadi gini... “ Andi ngeluarin secarik kertas dari tas nya. Dia tau ekspresi kebingungan gue. “ Lo tau gak, kalo Indonesia salah satu negara dengan perkembangan ekonomi yang baik? Dan lo tau juga gak kalo ekonomi adalah sumber kehancuran kita? “
“ Maksud lo? “
“ Nih... disaat ekonomi kita lagi mengalami perkembangan, korupsi terus merajajela. Ibarat hama yang susah untuk dihilangkan. Korupsi adalah perusak bangsa. Dan itulah yang terjadi saat ini.. akibatnya ekonomi berantakan.“
Ahmad setuju. Pake banget.
“ Nah cuman... yang gue ga pernah habis pikir adalah dimana kesempatan untuk pemuda seperti kita? Untuk memperbaiki kerusakan itu? Tiap tahun ekonom baru yang fresh selalu muncul, tapi apa yang bisa mereka kontribusikan? “
Ahmad kemudian terdiam sesaat. “ Eh.. banyak ! cuman belum terlihat , menurut gue. Soalnya kesempatan yang diberikan masih kurang. “
“ Itu dia.... Padahal jika Indonesia percaya pada pemudanya untuk membangun generasi baru dengan berlandas kejujuran, gue yakin ekonomi kita bisa berkembang tanpa harus terjatuh. Gue pikir korupsi ini merupakan penyakit generasi lama. Kita adalah generasi baru. Itu bedanya. “
***
Perbincangan itu memberanikan Ahmad untuk membuat sebuah artikel kritis di sebuah surat kabar harian. Doi cuman ingin menuangkan apa yang selama ini menjadi tanda tanya besar dalam pikirannya, “ APA YANG BISA GUE LAKUIN UNTUK EKONOMI BANGSA ? “
2 hari setelah Ahmad mengirimkan artikel itu, Doi dipanggil oleh pimpinan redaksinya, Mas Sholeh. “ Saya tertarik dengan artikel yang anda kirimkan. Namun, sebelum saya memastikan artikel itu bisa diterbitkan, saya meminta anda menjelaskan kepada tentang pendapat yang ada di dalamnya. “ , ucap Mas Sholeh di telepon.
Inilah kesempatan Ahmad buat mengungkapkan pemikirannya. Doi ngejelasin semua yang bisa dijelasin.
“ Saya tertarik dengan salah satu pernyataan di artikel anda yaitu, ‘ Pemuda perannya dikebiri. Khususnya bidang ekonomi. ‘ “
“ Ya, ada yang salah, Mas ? “
“ Tolong jelasin kepada saya maksud pernyataan itu. Bukankah saat ini banyak pimpinan perusahaan adalah mereka yang masih berusia muda? Pengusaha pun banyak yang muda-muda sekarang loh... “
“ Gini loh Mas, walaupun itu benar adanya ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran saya. Jika pemuda seperti itu yang dimaksud, apa peran pemuda seperti saya sekarang ini ? haruskah saya membuat suatu wirausaha atau bergabung dalam perusahaan terlebih dahulu? “
“ Justru, yang saya tekankan di artikel itu adalah bahwa sebagai pemuda, memajukan bangsa adalah tujuan utama. Yang pertama ingin saya perbaiki adalah moral. Korupsi muncul diakibatkan moral yang rusak. Jika pemuda sudah peduli pada bangsanya, sebuah solusi inshaa Allah akan muncul.. “ , lanjut gue.
Mas Sholeh terdiam.
Ahmad melanjutkan lagi, “ Mas, peran mahasiswa seperti saya ini penting untuk membangung ekonomi bangsa. Peran kita adalah supporting. Dengan pendapat-pendapat, karya tulis, ataupun tulisan-tulisan, sekaligus pembangunan moral, saya pikir bisa menjadi sebuah kontribusi besar, “
Ahmad kemudian menyelesaikan penjelasan yang udah mirip presentasi itu. Doi cuman ngeliat Mas Sholeh tersenyum mendengar penjelasan tersebut. Doi berharap artikel itu diterbitin. Artikel itu adalah senjata awal untuk mengubah pola pikir pemuda zaman sekarang, khususnya mereka yang berjuang di bidang ekonomi.
***
Setelah menunggu 2 hari, akhirnya artikel Ahmad berhasil diterbitkan. Pro-kontra pun berdatangan. Terutama yang merasa dianggap “ generasi lama “. Doi cuman tersenyum melihat itu semua. Apa yang dituangkan dalam artikel itu adalah sebuah kejujuran seorang mahasiswa yang peduli pada bangsanya. Seorang mahasiswa yang ingin bangsanya berkembang dengan baik.
Efek dari munculnya artikel itu sungguh besar. Di beberapa universitas muncul organisasi-organisasi atau sekelompok orang yang ingin melibatkan diri dalam pembangunan bangsa, terutama bidang ekonomi. Muncul orang-orang yang memiliki visi sama untuk membangun bangsa yang maju dan bersih. Mereka terinspirasi dengan metode “ pembangunan moral “ yang diungkapkan Ahmad dalam artikel pertamanya itu.
Ahmad sama sekali tidak menyangka bahwa apa yang ditulisnya ternyata menjadi inspirasi bagi orang banyak untuk membangun bangsa menjadi lebih baik. Keyakinan yang dipegang kuat Ahmad membuahkan hasil yang membuatnya menjadi sosok inspirator terbaik.
SELESAI
Penulis : M.A.R
Tidak ada komentar:
Posting Komentar